Posted on

Definisi Pintar

Saya ingat kurang lebih empat tahun lalu, saat saya naik kelas dari kelas X ke kelas XI. Kelas XI sama dengan penjurusan, IPA dan IPS di SMA dimana saya bersekolah. Sejak awal saya katakana pada wali kelas saya bahwa saya ingin berada di jurusan IPS. Mengejutkan, wali kelas saya malah bertanya, “Kamu kenapa nggak masuk IPA aja? Kamu kan pintar.” Saya mengerutkan kening. “Ibu melihat saya pintar di bidang IPA? Nilai-nilai saya di mata pelajaran IPA (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi) kan nggak pernah lebih dari 5. Sementara nilai-nilai mata pelajaran IPS saya bisa dibilang lumayan. Saya lebih baik menjadi yang terbaik di IPS daripada menjadi yang buruk di IPA tapi saya mendapatkan prestige nama IPA. Saya nggak butuh itu, Bu.”

Wali kelas saya diam saja. Tentu saja beliau diam saja. Tapi bukan itu yang saya mau bicarakan dalam hal ini. Mendengar dan mengingat kembali ucapan wali kelas saya itu, saya jadi berpikir tentang definisi pintar yang sebenarnya. Menilik Kamus Besar Bahasa Indonesia, pintar adalah pandai; cakap: cerdik; mahir (melakukan atau mengerjakan sesuatu).

Setelah membaca definisi dari KBBI tersebut, saya kembali ke ucapan wali kelas saya. Apakah pintar itu sama dengan pandai dalam bidang Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, atau sebangsanya? Lalu jika ada seseorang yang pandai di bidang sosiologi, sejarah, bahasa, atau sastra apakah orang itu tidak pintar?

Lalu saya kembali lagi ke empat tahun lalu. Ada seorang teman saya yang takut untuk pulang ke rumah karena ia masuk ke kelas IPS (belakangan diketahui ada kesalahan dan akhirnya ia masuk ke kelas IPA) karena takut akan dimarahi oleh orangtuanya. Ia bilang bahwa orangtuanya tidak akan membiayainya sekolah jika ia masuk jurusan IPS.

Satu kata keluar dari mulut saya saat mendengarnya: GILA. Saya heran kenapa masih saja ada orangtua yang berpikiran seperti itu. Memangnya bakat anak bisa dipaksakan? Bagaimana kalau kehendak mereka tidak sesuai dengan kemauan anak? Kalau anak terpaksa menuruti kehendak mereka lalu hasilnya tidak sesuai keinginan, apakah anak lagi yang dijadikan pelampiasan?

Bersyukur, orangtua saya tidak seekstrem itu. Orangtua saya sadar betul bahwa tiap anak memiliki bakatnya masing-masing dan orangtua sama sekali tidak bisa memaksakan kehendaknya pada anak-anaknya. Orangtua saya membebaskan saya memilih jurusan saat SMA dan saat di perguruan tinggi, asalkan saya dapat mempertanggungjawabkannya.

Saya rasa sampai detik ini pun masih banyak orangtua atau guru yang masih berpikiran bahwa definisi pintar sama dengan pandai dalam bidang eksak. Seharusnya mereka sadar bahwa ini akan menghancurkan anak-anak atau murid-murid mereka sendiri. Masih banyak anak-anak yang panda di bidang yang lain, yang harus dipertimbangkan juga.

About sakinakinoy

A student. A real Aquarian. An androgyny. A part-time language tutor. A dreamer.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s