Posted on

Pelajaran Dari Lelaki Tua Pincang

Cerpen “Penyusup Larut Malam” karya S Prasetyo Utomo boleh dikatakan merupakan sebuah cerita pendek yang memiliki makna dan pesan yang panjang dan dalam layaknya sebuah novel atau roman. Cerita yang disuguhkan sangatlah unik. Tema yang diangkat oleh sang pengarang juga tidak pasaran. Pembaca diajak untuk berpikir dalam-dalam, menyelami hati nurani, religiusitas dan rasa tenggang rasa melalui sebuah fragmen berlatar sederhana namun menyentuh hati.

Tokoh-tokoh sentral dalam cerpen “Penyusup Larut Malam” ini adalah Aryo dan seorang lelaki tua yang digambarkan lusuh, berpeci, bermata juling, dan berjalan pincang. Dalam senja yang gerimis, sang lelaki tua datang ke rumah Aryo. Aryo merasa tidak mengenal lelaki tua itu dan bertanya-tanya kenapa lelaki tua itu datang ke rumahnya. Lelaki tua itu memohon kepada Aryo untuk membeli ladang yang dimilikinya dengan alasan untuk membiayai pengobatan istrinya. Aryo berkata dengan sopan bahwa ia tidak berminat untuk membeli ladang, namun sang lelaki tua menyarankan Aryo untuk mempertimbangkannya. Lagipula ia juga menjual ladang itu dengan harga murah.

Aryo pun membeli ladang milik lelaki tua itu. Suatu senja Aryo menyusuri ladang yang dibelinya dari lelaki tua itu. Tak jauh dari ladang terdapat rumah-rumah kampung yang telah diratakan buldoser. Bangunan yang masih berdiri hanyalah rumah lelaki tua dan surau tua. Aryo bertemu dengan lelaki tua berpeci di surau. Ia berkata pada Aryo agar surau tua itu dipertahankan dan tidak dijual.

Belakangan tokoh Kiai Najib muncul. Ia adalah imam surau tua yang sepi jamaah itu. Ia mengeluh pada Aryo atas kondisi surau yang menyebabkan sedikitnya jumlah jamaah yang sholat disana. Lelaki tua berpeci datang lagi ke rumah Aryo. Aryo berkata bahwa ia akan memperbaiki surau dengan uang hasil penjualan ladang. Lelaki tua terkejut dan murka saat mendengar bahwa ladangnya telah dijual. Setelah itu ia tidak pernah muncul lagi di hadapan Aryo.

Seorang lelaki tua yang lusuh berdzikir setelah sholat tahajud di surau yang baru saja diperbaiki. Kiai Najib melihatnya dan mengusir lelaki tua itu dari surau dengan kasar. Beberapa waktu kemudian Kiai Najib tidak lagi menjadi imam surau. Ia terbaring sakit. Aryo menjenguknya. Kiai Najib menitipkan permohonan maaf kepada lelaki tua itu. Aryo berkata ia akan menyampaikan permohonan maafnya. Tapi ia tidak pernah lagi bertemu dengan lelaki tua itu.

Cerpen yang dimuat di harian Kompas edisi 8 Maret 2009 ini mengandung pesan moral yang amat dalam. Kata-kata serta kalimat sederhana dalam cerpen ini tepat dipilih namun tidak membuat cerita terkesan “enteng.” Namun, lompatan-lompatan adegan bisa dibilang belum mulus sehingga sedikit mengurangi kesan mengalir dalam cerpen ini. Meski demikian, terlepas dari kekurangan tersebut, cerpen ini sangatlah baik dari segi makna dan efek yang ditimbulkan pasca membaca. Cerpen ini mampu membuat pembaca terkesan tanpa harus mengumbar kisah cinta pasaran yang gampang ditebak.

About sakinakinoy

A student. A real Aquarian. An androgyny. A part-time language tutor. A dreamer.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s